28/05/16

Bag-6. Sejarah Tapanuli: Sejarah Pers Tapanuli, Raja-Raja Persuratkabaran di Padang, Medan, Jakarta dan Bandung



Sejarah pers Tapanuli adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah pers nasional. Kehadiran pers di Tapanuli dibawa langsung oleh anak-anak Tapanuli yang telah lebih dahulu merintis pers di daerah lain. Mereka itu antara lain Soetan Casajangan, Dja Endar Moeda dan Lim Soen Hin bersaudara. Dja Endar Moeda dan Lim Soen Hin bersaudara. Dja Endar Moeda adalah Raja Persuratkabaran di Padang (Pertja Barat), sementara Raja Persuratkabaran di Medan adalah Abdulah Lubis (Pewarta Deli). Raja Persuratkabaran di Jakarta adalah Parada Harahap (The King of Java Press) dan Sakti Alamsyah Siregar di Bandung (pendiri Pikiran Rakyat, yang masih eksis hingga ini hari dan diteruskan anaknya bernama Perdana Alamsyah). Secara keseluruhan ada 100 Tokoh Pers asal Tapanuli di Indonesia.

Pers di Tapanuli

Residentie Tapanoeli dibentuk tahun 1841 dan menjadi bagian dari Province Sumatra’s Westkust (Provinsi Pantaii Barat Sumatra). Residentie Tapanoeli dipisahkan dari Sumatra’s Westkut dan menjadi residen yang otonom tahun 1905. Surat kabar pertama yang diterbitkan di Tapanuli adalah Tapian na Oeli pada tahun 1900. Surat kabar berbahasa Melayu  ini terbit di Sibolga dengan oplah terbesar di Padang Sidempuan. Nama Tapian na oeli biasa disingkat Tapanoeli.

Soerabaijasch handelsblad, 12-11-1900
Surat kabar Tapian na Oeli didirikan tahun 1900. Surat kabar ini terbilang kualitas bahan cetak dan tatabahasa merupakan yang terbaik dari surat kabar pribumi yang ada (Soerabaijasch handelsblad, 12-11-1900). Pendiri surat kabar ini adalah Hadji Dja Endar Moeda. Setelah surat kabar ini kemudian oleh Dja Endar Moeda di Padang diterbitkan majalah Insulinde (De locomotief: Samarangsch handels-en advertentie-blad, 02-05-1901). Dja Endar Moeda sejak 1900 telah mengakuisisi surat kabar Pertja Barat (dimana Dja Endar Moeda sudah menjadi editor sejak 1897). Ini dapat dimaklumi bahwa Tapian na Oeli surat kabar pribumi terbaik karena Pertja barat dan Tapian na Oeli dimiliki oleh orang yang sama dengan percetakan sendiri. Dja Endar Moeda pada tahun 1903 menerbitkan surat kabar berbahasa Belanda, Sumatra Nieuwsbald Dja Endar Moeda sebagai editor Sumatra Nieuwsbald terkena pasal delik pers tahun 1905 (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 30-11-1905). Surat kabar ini ditutup oleh Dja Endar Moeda setelah terkena delik pers yang kedua (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 25-03-1907). Pada tahun 1907 Dja Endar Moeda mendirikan surat kabar Pembrita Atjeh di Kota Radja dan tahun 1910 mendirikan surat kabar Pewarta Deli. Motto surat kabar Pertja Barat dan Pewarta Deli sama persis.

Surat kabar Binsar Sinondang yang mulai diterbitkan tahun 1906 dan kemudian suksesinya berganti nama menjadi Sinondang Baroe dapat bertahan hingga tahun 1930an. Surat kabar berbahasa Batak ini sekitar 1930an sangat intens menyuarakan pengaruh modal asing di Tapanoeli dan aktif menggalang dana penduduk untuk pembangunan.

Leeuwarder courant, 22-06-1903
Lim Soen Hin, radja persuratkabaran, kelahiran Batangtoru dan bersekolah di Padang Sidempuan. Dengan saudaranya dan teman-temannya sesama Tionghoa asal Padang Sidempuan (antara lain Liem Boan San) kemudian mendirikan perusahaan penerbitan surat kabar di Sibolga dengan nama Tiong  Hoa Ho Kiok Co. Ltd. Mereka semua adalah alumni Padang Sidempuan. Uniknya, Lim Soen Hin tidak hanya fasih berbahasa Melayu dan Belanda tetapi juga bahasa Batak. Karenanya, Lim Soen Hin juga menjadi asisten editor surat kabar Binsar Sinondang di Sibolga. Lim Soen Hin juga pernah menjadi redaktur surat kabar bernama Warta Hindia. Beberapa artikel Lim Soen Hin di Bintang Hindia melawan kapitalisme (1920). Lim Soen Hin jauh sebelumnya telah merintis persuratkabaran di Padang dan bertindak sebagai editor Bintang Sumatra dan Tjahaja Sumatra.

Surat kabar berikutnya adalah Poestaha yang terbit di Padang Sidempuan sejak 1915. Surat kabar ini dirintis oleh Soetan Casajangan (pendiri Indisch Vereeniging di Leiden, 1908). Surat kabar daerah ini oplahnya hingga ke Pematang Siantar (De Sumatra post, 15-04-1918).

Nama Poestaha diambil dari dokumen (buku) Batak yang disebut poestaha. Buku poestaha adalah warisan nenek moyang orang Batak yang mana buku tersebut terbuat dari kulit pohon yang berisi berbagai ilmu. Pada yanggal 16 Januri 1913 dipamerkan sebuah poestaha di Belanda yang berumur 300 tahun (lihat Apeldoornsche courant, 22-01-1913).

Surat kabar ini eksis bahkan hingga tahun 1930an. Pada tahun 1919 surat kabar ini menjadi momok bagi pemerintah colonial di Tapanoeli, sebab selain Sinar Merdeka yang didirikan oleh Parada Harahap tahun 1919 juga Parada Harahap menjadi editor untuk surat kabar Poestaha.

De Preanger-bode, 06-08-1920 melaporkan bahwa de voorzitter van den Hatopan Christen Batakbond, Manullang dihukum 15 bulan karena telah menulis artikel di surat kabar Poestaha. Manullang mengkritik pemerintah di Taroetoeng, WKH Ypes. Manullang menyebut orang Eropa sebagai ‘lintah’. Kritik Manullang ini karena belakangan pemerintah mengenakan pajak yang lebih besar dimana sebelumnya penduduk sempat berdemontrasi. Putusan itu ditetapkan di Rapat di Padang Sidempuan dan mendapat dukungan dari Gubernur. De Sumatra post, 18-08-1920 menganggap putusan itu terlalu berat. Menulis artikel yang kritis sekarang ini, tampaknya hanya Poestaha media yang masih tersisa di Tapanoeli. Semoga kita tidak membiarkan pada pertanyaan apakah hukuman berat adalah proporsional dengan pelanggaran yang telah dilakukan (oleh Manullang).

Pada tahun 1927 surat kabar Poestaha sempat memuat tulisan seorang pejabat. Lalu surat kabar Soeara Tapanoeli melaporkan kasus itu. Parada Harahap di Batavia bereaksi. Memberikan kesempatan bagi pejabat untuk menulis di Poestaha dianggap sebagai penghianatan dari seorang editor. Parada Harahap-isme tampaknya masih berlaku (Algemeen Handelsblad, 20-03-1927).

Poestaha adalah surat kabar yang banyak membantu dalam mencerdaskan penduduk di afdeling Padang Sidempuan. Poestaha adalah koran daerah di Padang Sidempuan, sedangkan koran Sinar Merdeka adalah surat kabar nasional yang terbit di Padang Sidempuan. Poestaha adalah salah satu surat kabar dimana Manullang kerap mengirimkan tulisan yang bersifat kritis di daerahnya di Silindoeng en Toba.
Hazekiel Manoellang adalah Pimpinan Hatopan Kristen Batak (Bataksche Christenbond). HKB pertamakali mengadakan kongres pertama 4 Juli tahun 1818 di Balige. Salah satu keputusan Kristen dan Muslim hidup berdampingan (De Sumatra post, 19-08-1918). Direktur BB ke Tapanoeli (De Sumatra post, 07-10-1918HKB ikut dalam rapat umum di Medan yang menghadirkan Boedi Oetomo, Hatopan Christen Batak, Estates klerken Bone?, Journalisten Bond, Medan Setia, Zetters Bond, Setia Bondjol, Teekenaars Opnemers Bond, S.I. P.D.S.M., Personeel-Hospitaal-Bond, Insulinde, Hoa Tjong Soe sit (De Sumatra post, 05-04-1919). Batak dan politik (De Sumatra post, 21-08-1919). Hazekiel Manoellang kerap bertukar pikiran dengan Parada Harahap di Padang Sidempuan dan Sibolga. Tulisan kritis Manullang di surat kabar Poestaha diadili dan dihukum 15 bulan penjara (De Preanger-bode, 06-08-1920). Manullang mengikuti jejak Parada Harahap yang kerap dimejahijaukan. HKB ikut membentuk Sumatranen Bond divisi Sibolga (yang dimotori oleh tiga orang Parada Harahap, Manoellang dan Abdul Manap, editor Hindia Sepakat) yang akan ikut melakukan kongres di Padang pada Desember 1922 (De Indische courant, 07-01-1922). Sumatranen Bond digagas dan presiden pertama adalah Sorip Tagor di Leiden tahun 1917. Sorip Tagor kelahiran Padang Sidempuan, ompung dari Inez dan Risty Tagor.
Sinar Merdeka didirikan oleh Parada Harahap tahun 1919 (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 02-09-1919). Surat kabar ini yang terang-terangan memberi nama dengan mengusung kemerdekaan. Gaya jurnalistik yang keras dari Parada Harahap di Sinar Merdeka Padang Sidempuan kerap tersandung dan dikenakan pasal delik pers. Akibatnya Parada Harahap harus berulang kali dimejahijaukan dan beberapa kali masuk bui.

Parada Harahap memulai karir sebagai krani di perkebunan. Oleh karena tidak tahan melihat penderitaan para kuli (asal Tiongkok dan Jawa) melakukan investigasi jurnalistik secara amatir kemudian laporannya dikirim ke Benih Mardeka. Para editor Benih Mardeka mengolahnya lalu ditulis. Pemberitaan di Benih Mardeka ini lalu kemudian disarikan kembali oleh surat kabar Soeara Djawa yang kemudian menjadi heboh di Jawa. Parada Harahap yang sempat menjadi editor Benih Mardeka sebelum dibreidel, lalu pulang kampong dan mendirikan surat kabar Sinar Merdeka di Padang Sidempuan yang terbit pertama 1 Januari 1919. Pada tahun 1923 Parada Harahap hijrah ke Batavia dan kemudian membangun kerajaan media yang nama Parada Harahap terkenal kemudian sebagai The King of Java Press

Surat kabar Hindia Sepakat adalah surat kabar berbahasa Melayu yang diterbitkan di Sibolga. Surat kabar ini adalah suksesi surat kabar Tapian na Oeli. Editor adalah Abdul Karim, seorang dokter kelahiran Padang Sidempuan. Tulisan-tulisan protes Abdul Karim di Hindia Sepakat terhadap pemerintah kerap memicu penduduk untuk berdemonstrasi. Abdul Karim digambarkan seorang intelektual (Bataviaasch nieuwsblad, 04-11-1920).

Abdul Karim dan Abdul Hakim sekelas Tjipto M
Abdul Karim adalah aktivis politik (National Indische Party=NIP) di Sibolga yang dulunya berdinas di Padangsch. Abdul Karim adalah alumni Docter Djawa School, sekelas dengan Dr. Tjipto M (pendiri NIP yang berhaluan nasional, bukan berhaluan kedaerahan Jawa). Abdul Karim adalah pencetus dibentuknya Sumatranen Bond di Sibolga. Dr. Abdul Karim (senior) dan Dr(h). Sorip Tagor (junior) adalah sama-sama kelahiran Padang Sidempuan.

Posisi editor Hindia Sepakat kemudian digantikan oleh Abdul Manap, pensiunan guru di Padang Sidempuan (lihat De Indische courant, 07-01-1922). Dr. Abdul Karim memperluas gerakan politik ke Atjeh dan mendirikan surat kabar Oetoesan Rakjat di Langsa.
De Sumatra post, 26-03-1923: ‘Besok akan ada dua editor dari surat kabar Oetoesan Rakjat di Langsa, Abdul Karim dan Pedo ditransfer ke Sibolga, karena pada tanggal 6 April untuk diadili di Landraad karena pelanggaran pers (persdelict). Abdul Karim dan Pedo adalah mantan editor dari Hindia Sepakat di Sibolga’.Abdul Karim memprotes pemerintah yang menangkap dua aktivis politik Atjeh yang dari Loksumawe diasingkan ditahan ke Mealaboh dan Sabang,
Surat kabar Soeara Tapanoeli terbit di Sibolga yang mana menjadi editor adalah Abdul Manap. Abdul Manap adalah pensiunan guru di Padang Sidempuan. Surat kabar ini terbilang kritis. Pada saat kunjungan Gubernur Jenderal di Tapanoeli tidak berani memenuhi permintaan Soeara Tapanoeli untuk wawancara. Menurut Soera Tapanoeli selama Gubernur Jenderal di Sibolga tidak terlihat di depan umum (Bataviaasch nieuwsblad, 07-03-1927).

Surat kabar Soeara Tapanoeli adalah yang melaporkan adanya tulisan pejabat di Poestaha. Sebagaimana diketahui bahwa editor Poestaha 1919-1922 adalah Parada Harahap, yang pernah menjadi editor di Benih Mardeka di Medan dan kini (1927) adalah editor Bintang Timoer di Batavia. Surat kabar Soeara Tapanoeli di era agresi terbit kembali (Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 23-04-1949).

Soeara Batak terdeteksi keberadaannya tahun 1920 (De Sumatra post., 26-06-1920). Editor Soeara Batak, Soetan Soemoeroeng terkenal delik per dan dikenai hukuman kurungan dua bulan atau denda f150 (De Preanger-bode, 26-09-1923). Untuk kesekiankalinya Soeara Batak tersandung delik pers. Editor didenda f150 dan Direktur dihukum f100 (De Sumatra post, 14-05-1929).

Surat kabar berbahasa Melayu, Pertjatoeran terdeteksi pada tahun 1925 di Sibolga (De Indische courant, 18-09-1925). Surat kabar mengalami delik pers di bawah editor M. Arif Lubis (De Sumatra post, 16-09-1931).


Bintang Batak terbit di Sibolga pada tahun 1927. Surat kabar ini menggunakan dua bahasa bahasa Melayu dan bahasa Batak. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 27-05-1935 melaporkan  kepala redaktur dihukum penjara dua bulan karena memuat tulisan yang isinya menghasut. Hukuman bagi si penulis selama enam bulan.

Surat kabar ini masih terdeteksi tahun 1941 (Bataviaasch nieuwsblad, 09-06-1941) ketika Mangaradja Soangkoepon mengajukan pertanyaan kepada pemerintah menanggapi judul berita Bintang Batak edisi 4 Oktober 1940 yang berjudul ‘Bagaimana soesahnja rakjat mentjari keadilan’. Catatan: Mangaradja Soangkoepon adalah anggota Volksraad sejak tahun 1927. Lihat juga Bendera Kita.

Surat kabar Palito Batak awalnya terbit di Sibolga kemudian pindah ke Taroetoeng. Di dalam Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 31-05-1928 disebutkan slogan surat kabar ini adalah ‘hendaklah kamu cerdik seperti ular, dan tulus seperti merpati’. Palito Batak adalah corong bagi Mr Gustav Adolf. Di dalam dua artikel Mr Gustav Adolf melawan Parbarita Batak.

Surat kabar mingguan Soeara Sini terbit di Padang Sidempuan. Surat kabar ini terdeteksi tahun 1929 ketika wartawannya bernama Sahoeroem ditingkap di Padang karena menulis dan menyebarkan pamphlet berjudul Semangat Nasional Indonesia di Fort de Kock, dimana di dalam tulisan itu terdapat kata-kata yang menghina orang-orang ETI (Eropa). Tahanan ini kemudian dibawa ke Fort de Kock (De Sumatra post, 04-12-1929).

Surat kabar berbahasa Melayu, Surja terbit di Sibolga. Surat kabar ini berukuran mini hanya seperempat lembar. Ukuran surat kabar ini terbilang terkecil di negeri ini. Surat kabar ini terdeteksi tahun 1932 yang memberitakan kedatangan Ir. Soekarno ke Tapanoeli  dalam rangka pembentukan divisi Partai Indonesia (De Sumatra post, 13-05-1932).

Surat kabar Sinar Sipirok terbit di Sipirok. Editor mingguan Sinar Sipirok ini adalah Soetan Katimboeng (De Sumatra post, 26-05-1933). Surat kabar ini merupakan surat kabar paling radikal. De Sumatra post, 26-06-1933 Sutan Katimboeng mantan Loehathoofd dari Saromatinggi melakukan rapat besar tentang politik di Gunung Tua. Rapat itu dianggap pelanggaran secara hukum dan menjatuhkan hukuman sembilan bulan penjara. Surat kabar Sinar Sipirok berafiliasi dengan suatu partai dimana nama Adam Malik dikaitkan.

De Sumatra post, 27-10-1934: ‘Larangan pertemuan. Minggu terakhir di Siantar ditangkap Adam Malik, anggota dewan dari partai politik di Siantar. Penangkapan itu terjadi atas permintaan hakim Sipirok sejak Adam Malik itu diduga mengadakan pertemuan partai ketika ia berada selama di Siporok. Di bawah polisi mengawal Adam Malik dibawa ke Sipirok…’.

Adam Malik lahir di Pematang Siantar pada tahun 1917. Jika kejadian penangkapan ini terjadi pada tahun 1934 itu berarti umur Adam Malik masih 17 tahun. Adam Malik kemudian dibui di penjara Padang Sidempuan, tempat dimana dulunya Parada Harahap kerap ditahan.

Partainya Adam Malik adalah Partai Indonesia (Partindo). Partai ini didirikan oleh Sartono, yang sebelumnya menjabat sebagai ketua PNI (Lama) yang duduk menggantikan Soekarno yang ditangkap Belanda. Tujuan partai ini adalah kemerdekaan Indonesia.

Parada Harahap ketika Adam Malik ini ditahan di Padang Sidempuan, baru pulang dari Jepang. Parada Harahap akhir tahun 1933 memimpin tujuh orang Indonesia pertama ke Jepang (termasuk di dalamnya Mohamad Hatta yang baru pulang dari studi di Belanda). Parada Harahap oleh pers Jepang dijuluki sebagai The King of Java Press. Saat itu Parada Harahap memiliki tujuh media (termasuk berbahasa Belanda) diantaranya Bintang Timoer surat kabar di Batavia bertiras paling tinggi mulai terbit 1925), ketua Kadin pribumi Batavia, penggagas Federasi Organisasi Indonesia dimana Parada Harahap sebagai sekretaris dan M. Husni Thamrin sebagai ketua (1927). Parada Harahap adalah Pembina Kongres Pemuda 1928 (ketua Soegondo dan bendahara Amir Sjarifoedin yang sama-sama kelahiran Medan). Parada Harahap adalah mentor dari Soekarno, Hatta dan Amir Sjarifoedin Harahap.

Surat kabar mingguan terbit di Tarutung, Bendera Kita (De Sumatra post, 26-11-1934). Surat kabar ini terdeteksi kembali ketika memberitakan dibentuknya komite di Padang Sidempuan untuk melakukan pertemuan umum untuk menentukan siapa yang menjadi wakil ke Volkstaad (De Sumatra post, 13-02-1935). Dua wakil yang muncul ke permukaan adalah Dr. Alimoesa (Harahap) dan Dr. Abdul Rasjid (Siregar).

Surat kabar ini masih terdeteksi tahun 1941 (De Indische courant, 10-07-1941) ketika Mangaradja Soangkoepon mengajukan pertanyaan kepada pemerintah menanggapi judul berita Bintang Batak edisi 4 Oktober 1940 yang berjudul ‘Bagaimana soesahnja rakjat mentjari keadilan’. Catatan: Abdul Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon adalah anggota Volksraad sejak tahun 1927. Lihat juga Bintang Batak.

Surat kabar mingguan terbit di Sibolga bernama Pelopor terdeteksi tahun 1957. Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 12-10-1957 melaporkan bahwa komandan RI-3 diperintah untuk mengekang surat kabar tersebut selama 10 hari. Hal ini karena pemberitaan 30 September berjudul ‘Perebutan Kekuasaan di Jawa Timur?’. Editor A Pandjaitan protes.

Surat kabar Java-bode diakuisisi oleh Parada Harahap sejak 1952.  Surat kabar yang sudah seratus tahun ini terpaksa dijual pemiliknya orang Belanda karena kebijakan nasionalisasi.

Soera Nasional adalah surat kabar yang terbit pertama kali tahun 1946 di Sibolga. Pada tahun 1950 surat kabar ini diakuisi dan kemudian tahun 1952 dilikuidasi. Het nieuwsblad voor Sumatra, 05-09-1957 melaporkan Suara Nasional pada 30 Agustus terbit pertama yang diterbitkan oleh sebuah yayasan bernama Jajasan Penerbit Suara Nasional.

Boeroe Tapanoeli asli (foto Analisa)
Surat kabar Oetoesan terdeteksi tahun 1935 (De Indische courant, 08-04-1935). Surat kabar Utusan Tapanuli mulai terbit 19 Februari 1949 (kembali?) di Sibolga. Het nieuwsblad voor Sumatra, 26-02-1949 mengidikasikan bahwa surat kabar ini bersifat federalis. Koran ini meski baru tampak bergaya modern. Edisi 21 Februari, editorial menulis tentang status Tapanuli, yang mana berpendapat bahwa sekarang Tapanuli telah ditebus oleh pasukan Belanda dari isolasi, orang-orang tak perlu takut.

Surat kabar Boroe Tapanoeli adalah surat kabar yang diternitkan oleh tokoh-tokoh perempuan di Padang Sidempuan. Surat kabar ini terbit pertama kali pada tanggal 10 Oktober 1940. Surat kabar ‘Boroe Tapanoeli’ terbit secara berkala, setiap 10 hari sekali (tanggal 10, 20 dan 30). Surat kabar ini dipimpin oleh Srikandi Padang Sidempuan bernama Awan Chatidjah Siregar, dengan anggota redaksi: Soemasari Rangkoeti, Roesni Daulay, Dorom Harahap, Marie Oentoeng Harahap dan Halimah Loebis. Pada bagian administrasi tercantum nama Siti Sjachban Siregar, Lela Rangkoeti dan Intan Nasoetion.
Boeroe Tapanoeli diubah Suluh Ra;jat (skripsi mahasiswa)
Surat kabar satu halaman ini tampilannya dapat dilihat dalam artikell ‘Boroe Tapanoeli, Trompet Kepoetrian dari Padang Sidempuan yang dimuat di Harian Analisa, 21 April 2008. Tampilan surat kabar ini terlihat asli. Tampilan palsu dapat diamati pada lampiran skripsi Universitas Sumatera Utara (menunjukkan sumber dari Koleksi Badan Kearsipan Nasional RI). Nama surat kabar  Boroe Tapanoeli diubah menjadi Suluh Ra’jat (nama surat kabar beda, isi sama; tanggal terbit dan nama penerbit juga dibuat berbeda). Teks nama surat kabar, nama penerbit dan tanggal penerbitan telah diubah dengan cara menempel (cetakan teks kontras antara yang asli dengan yang palsu). Pertanyaannya: apakah pengubahan itu secara sengaja untuk maksud tertentu? Siapa yang diuntungkan dengan yang palsu ini?
100 Tokoh Pers Asal Tapanuli di Indonesia

Para pionir pers di Tapanuli ternyata hampir semuanya berasal dari Padang Sidempuan. Peran sekolah guru (kweekschool) Padang Sidempuan sangat signifikan. Tokoh-tokoh pers di awal peradaban pers Indonesia adalah alumni-alumni Kweekschool Padang Sidempuan (1879-1893), seperti Dja Endar Moeda, Soetan Casajangan, Mangaradja Salamboewe, Soetan Martoewa Radja, Soetan Parlindoengan, Lim Soen Hin dan lain sebagainya. Faktor penting dalam hal ini adalah Charles Adrian van Ophuijsen (selama delapan tahun menjadi guru di Kweekschool Padang Sidempuan, lima tahun terakhir sebagai direktur sekolah). Charles Adrian van Ophuijsen kelak dikenal sebagai penyusun pertama ejaan dan tatabahasa Melayu. Ejaan Ophuijsen menjadi cikal bakal EYD.  
Sumatra-courant, 08-04-1874
Pembaca menulis di surat kabar adalah bagian dari pers. Sejak awal 1880an warga Padang Sidempuan sudah kerap menulis di surat kabar Sumatra Courant yang terbit di Padang. Tulisan mereka yang dimuat sebagian berbahasa Belanda dan sebagian yang lain menggunakan bahasa Melayu (meski koran tersebut berbahasa Belanda). Boleh jadi keinginan menulis ini timbul karena jauh sebelumnya guru-guru mereka sudah terbiasa menulis buku umum dan buku pelajaran. Buku pelajaran sekolah yang pertama disusun oleh Willem Iskander tahun 1862. Buku terkenal Willem Iskander berjudul Siboeloe-boeloes, siroemboek-roemboek (Batavia, 1873). Jumlah buku-buku pelajaran yang ditulis para guru cukup banyak, umumnya buku-buku itu dicetak oleh penerbit di Batavia. Tidak hanya guru-guru yang menulis, tetapi juga banyak penduduk yang menulis iklan (seperti iklan dari ayah Soetan Casajangan, Maharadja Soetan, murid dari Willem Iskander di Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 08-04-1874). Willem Iskander berangkat studi ke Belanda tahun 1857 dan setelah lulus 1861 kembali ke tanah air dan mendirikan sekolah guru di Tanobato, 1862. Tradisi menulis ini boleh jadi sudah ada sejak doeloe (satu abad lampau). Charles Miller yang berkunjung ke Angkola 1772 kaget karena menemukan lebih dari separuh penduduk bisa baca tulis (aksara Batak). Angka literasi ini menurut Miller dan Marsden melampaui angka literasi dari semua bangsa-bangsa di Eropa. Penduduk di Angkola disebutkan belajar di ‘sopo’ (semaca ‘balai kota’ di tiap huta) dimana mereka menulis di atas lembar kulit pohon yang halus dengan menggunakkan tinta yang terbuat dari jelaga (hasil pembakaran) damar yang diencerkan dengan air tebu dengan pena yang dibuat dari lidi aren.
Daftar ini dimulai dari tahun 1897 ketika Dja Endar Moeda direkrut oleh investor Jerman untuk menjadi editor surat kabar Pertja Barat di Padang. Editor pribumi pertama di surat kabar investasi asing adalah Dja Endar Moeda, kemudian disusul Mangaradja Salamboewe di surat kabar Pertja Timor di Medan tahun 1901. Editor ketiga adalah Tirto Adhi Soerjo di surat kabar Pembrita Betawi di Batavia (1903). Tokoh pers Indonesia yang utama setiap era adalah sebagai berikut: pelopor (Dja Endar Moeda), penegak (Parada Harahap) dan penerus (Mochtar Lubis). Bukan kebetulan, ketiga tokoh pers Indonesia ini berasal dari Tapanuli. Dari awal hingga ini hari terdapat garis continuum tokoh pers Indonesia yang berasal dari Tapanuli. Kebetulan ketiga tokoh pers itu berada pada puncak-puncak piramida pada setiap era. Secara keseluruhan tokoh pers asal Tapanuli yang teridentifikasi tidak kurang dari 100 orang. 

Berikut daftar Tokoh Pers asal Tapanuli:

Dja Endar Moeda, alumni Kweekschool Padang Sidempuan (1884), mantan guru, pengarang novel, pendiri sekolah sasta pertama di Padang, editor pribumi pertama, Pertja Barat di Padang 1897. Dijuluki Radja Peruratkabaran Sumatra. Selain pemilik Pertja Barat, juga memiliki Tapian Na Oeli (1900), Insulinde (1901), Sumatra Nieuwsbald (1903), Pembrita Atjeh (1907), Pewarta Deli (1910).

Kantor Pertja Timor di Medan (juga markas Sumatra Post)
Mangaradja Salamboewe, alumni Kweekschool Padang Sidempuan (1893), dipecat sebagai jaksa di Natal karena kerap mengadvokasi penduduk untuk mendapat keadilan, editor pribumi kedua di Indonesia di Pertja Timor di Medan (1902). Wartawan pribumi terbaik menurut pers ETI (Eropa/Belanda). Abdul Hasan Nasoetion gelar Mangaradja Salamboewe adalah anak dari Dr. Asta, alunmni Docter Djawa School, siswa pertama yang diterima dari luar Jawa (1854).

Dja Endar Moeda dan Mangaradja Salamboewe lebih awal menjadi editor pribumi dibandingkan Tirto Adhi Soejo di Pemberita Betawi (1903). Mengapa Tirto Adhi Soerjo yang dijadikan sebagai Bapak Pers Indonesia?  

Soetan Casajangan, alumni Kweekschool Padang Sidempuan (1887), pribumi kedua yang kuliah di Belanda (1905), pendiri Perhimpunan Indonesia (Indisch Vereeniging) di Leiden (1908). Editor Bintang Hindia dan editor Bintang Perniagaan di Belanda. Penulis pribumi pertama yang bukunya diterbitkan di Eropa (1913). Saleh Harahap gelar Soetan Casajangan adalah pendiri surat kabar Poestaha di Padang Sidempuan (1915). guru di sekolah Radja di Fort de Kock (1914), HIS di Dolok Sanggoel, HIS di Ambon dan terakhir direktur Normaal School di Meester Cornelis, Batavia.

Dja Endar Bongsoe, alumni Kweekschool Padang Sidempuan (1887), mantan guru, editor Pertja Barat, Insulinde dan Sumatra Nieuwsblad di Padang untuk menggantikan posisi abangnya Dja Endar Moeda karena dijerat pasal delik pers, duhukum cambuk dan diusir dari Padang.

Lim Soen Hin, radja persuratkabaran, kelahiran Batangtoru dan bersekolah di Padang Sidempuan. Lim yang tidak hanya fasih berbahasa Melayu dan Belanda tetapi juga bahasa Batak merangkap asisten editor surat kabar Binsar Sinondang di Sibolga. Lim adalah redaktur surat Warta Hindia (Sibolga). Lim sebelumnya merintis persuratkabaran di Padang dan bertindak sebagai editor Bintang Sumatra dan Tjahaja Sumatra.

Panoesoenan gelar Soetan Zeri Moeda adalah editor pertama Pewarta Deli (1910). Panoesoenan memiliki gaya yang sama dengan Mangaradja Salamboewe dengan menomorsatukan gaya kritis terhadap kebijakan pemerintah dan persoalan ketidakadilan. Pada tahun 1915 Panoesoenan kena delik pers di pengadilan Medan dan mendapat hukuman kurungan 14 hari.

Soetan Parlindoengan, seorang mantan jaksa yang menggantikan posisi Panoesoenan di Pewarta Deli. Soetan Parlindoengan memiliki riwayat awal yang mirip Mangaradja Salamboewe sama-sama pernah menjadi jaksa dan sama-sama kritis terhadap pemerintah.

Mangaradja Ihoetan memulai karir sebagai wartawan kemudian menjadi editor Pertja Timor (setelah era Mangaradja Salamboewe). Mangaradja Ihoetan adalah pendiri surat kabar Sinar Deli di Medan.

Abdoelah Lubis, pensiunan guru yang menjadi salah satu pendiri surat kabar Benih Mardeka di Medan (1916). Abdoelah Lubis kemudian bergabung dengan Pewarta Deli dan menjadi pemilik. Abdoelah Lubis adalah anggota dewan kota (gementeeraad) Medan. Pada tahun 1930 Abdellah Lubis meminta Adinegoro menjadi editor Pewarta Deli di Medan dari Bintang Timoer di Batavia (pimpinan Parada Harahap). Abdoelah Lubis adalah salah satu wartawan yang menjadi bagian dari rimbongan orang Indonesia perta ke Jepang (1933). Kelak Adinegoro dan Mochtar Lubis menjadi pendiri PWI (1950).

Parada Harahap dijuluki sebagai The King of Java Press. Parada Harahap awalnya terlibat pers ketika tidak tahan melihat penderitaan para koeli di perkebunan dan lalu menulis kemudian mengirmkannya ke Benih Mardeka (1917). Oleh karena ketahuan, Parada Harahap dipecat sebagai krani lalu pindah ke Medan dan bergabung dengan Benih Mardeka sebagai editor (1918). Parada Harahap juga menjadi editor Pewarta Deli dan pendiri surat kabar wanita Perempuan Bergerak (bersama pacarnya yang kemudian menjadi istrinya). Pada tahun 1919 mendirikan suratkabar Sinar Merdeka di Padang Sidempuan (kerap dimejahijaukan dan masuk bui). Pada tahun 1923 hijrah ke Batavia dan mendirikan surat kabar Bintang Hindia (1923), mendirikan kantor berita pribumi pertama, Alpena (1924), mendirikan surat kabar Bintang Timoer (1925). Parada Harahap pemilik tujuh media di Batavia, bersama M. Husni Thamrin mempelopori didirikannya Federasi Organisasi Pribumi (1927) yang menjadi pelindung Kongres Pemuda 1928. Parada Harahap yang mendirikan Kadin Pribumi menjadi pimpinan rombongan orang Indonesia pertama ke Jepang (1933) termasuk di dalamnya Mohamad Hatta yang baru pulang studi dari Belanda. Di Jepang, pers setempat menjuluki Parada Harahap sebagai The King of Java Press.

Boetet Satidjah, wartawati pertama yang merupakan pendiri dan sekalgus editor suratkabar bulanan Perempuan Bergerak. Motto surat kabar kaum wanita ini adalah ‘De beste stuurlui staan aan wal’ (perempuan juga harus bisa berdiri di depan). Tujuan dari majalah ini memajukan tindakan wanita, sesuai untuk mendukung keinginannya saat ini, dan juga membantu aksi pria. Selanjutnya, surat kabar ini akan mencakup semua hal terkait minat wanita seperti masalah anak, pendidikan, kehidupan wanita itu sendiri dan urusan rumah tangga.     Boetet Satidjah di bidang tulis menulis jauh melampaui peran yang dilakukan tokoh-tokoh wanita sejaman, seperti RA Kartini dan Rihana Kudus (surat kabar Sunting Melayu). Boetet Satidjah kemudian dikenal sebagai istri dari Parada Harahap, wartawan paling revolusioner di Indonesia.

Surat kabar Boroe Tapanoeli adalah surat kabar yang diternitkan oleh tokoh-tokoh perempuan di Padang Sidempuan. Surat kabar ini terbit pertama kali pada tanggal 10 Oktober 1940. Surat kabar ‘Boroe Tapanoeli’ terbit secara berkala, setiap 10 hari sekali (tanggal 10, 20 dan 30). Surat kabar ini dipimpin oleh Srikandi Padang Sidempuan bernama Awan Chatidjah Siregar, dengan anggota redaksi: Soemasari Rangkoeti, Roesni Daulay, Dorom Harahap, Marie Oentoeng Harahap dan Halimah Loebis. Pada bagian administrasi tercantum nama Siti Sjachban Siregar, Lela Rangkoeti dan Intan Nasoetion.

Abdul Karim adalah editor surat kabar Hindia Sepakat, surat kabar berbahasa Melayu yang diterbitkan di Sibolga. Surat kabar ini adalah suksesi surat kabar Tapian na Oeli. Abdul Karim, seorang dokter kelahiran Padang Sidempuan. Tulisan-tulisan protes Abdul Karim di Hindia Sepakat terhadap pemerintah kerap memicu penduduk untuk berdemonstrasi. Abdul Karim digambarkan seorang intelektual (Bataviaasch nieuwsblad, 04-11-1920). Abdul Karim adalah aktivis politik (National Indische Party=NIP) di Sibolga yang dulunya berdinas di Padangsch. Abdul Karim adalah alumni Docter Djawa School, sekelas dengan Dr. Tjipto M (pendiri NIP yang berhaluan nasional, bukan berhaluan kedaerahan Jawa). Abdul Karim adalah pencetus dibentuknya Sumatranen Bond di Sibolga. Dr. Abdul Karim memperluas gerakan politik ke Atjeh dan mendirikan surat kabar Oetoesan Rakjat di Langsa. Abdul Karim pernah diadili di Landraad karena pelanggaran pers (persdelict) yakni setelah memprotes pemerintah yang menangkap dua aktivis politik Atjeh yang dari Loksumawe diasingkan ditahan ke Mealaboh dan Sabang,

Abdul Manap, mantan guru di Padang Sidempuan yang kemudian menjadi editor Hindia Sepakat suksesi surat kabar Tapian Naoeli  (menggantikan posisi yang ditinggalkan oleh Dr. Abdul Karim Harahap). Abdul Manap juga adalah editor surat kabar Soeara Tapanoeli terbit di Sibolga. Abdul Manap adalah mantan redaktur dari surat kabar Benih Mardeka di Medan.

Soetan Soemoeroeng adalah editor surat kabar Soeara Batak Editor Soeara Batak, Soetan Soemoeroeng terkena delik per dan dikenai hukuman kurungan dua bulan.

MH Manoellang adalah editor Binsar Sinondang di Sibolga (bersama Lim Soen Hin).  Pemimpim muda De Sibolgasche yang popular dalam De Jong Sumatraasche adalah Parada Harahap dan Manullang (De Indische courant, 07-01-1922). MH Manoellang adalah penulis kritis terhadap pemerintahan colonial dan pendiri Hatopan Kristen Batak yang tidak ingin statis di bawah baying-bayang misionaris Jerman.

M. Arif Lubis adalah editor surat kabar berbahasa Melayu, Pertjatoeran terbit di Sibolga. Surat kabar mengalami delik pers di bawah editor M. Arif Lubis (De Sumatra post, 16-09-1931).

Mohamad Joenoes, mantan guru dan penulis yang kerap mengirim tulisannya ke surat kabar Poestaha. Setelah hijrah ke Pematang Siantar selain aktif menulis di koran,  juga aktif mengarang novel.  Mohamad Joenoes gelar Soetan Hasoendoetan di Pematang Siantar adalah koresponden surat kabar Poestaha (Padang Sidempoean) dan Pewarta Deli (Medan). Mohamad Joenoes adalah salah satu pendiri Bataksch Bank di Pematang Siantar (bank pribumi pertama)untuk mengimbangi Java Bank (Belanda), Deli Bank (Tionghoa).

Novel terkenal Mohamad Joenoes adalah Sitti Djaoerah: Padan Djandji Na Togoe (Sitti Djaoerah: Sumpah Setia yang Teguh). Roman ini pertamakali diterbitkan di Pematang Siantar tahun 1927 dan dipublikasikan secara serial antara 1929 dan 1931 di surat kabar  Poestaha. Setelah pemuatan serial roman Soetan Hasoendoetan ini di surat kabar Poestaha, ternyata mendapat respon yang positif dari masyarakat luas di Tapanuli. Atas dasar itu, roman itu diterbitkan kembali dengan bentuk buku dalam dua jilid yang secara keseluruhan tebalnya sebanyak 457 halaman. Kedua jilid buku roman tersebut diterbitkan oleh Tpy Drukkerij Philemon di Pematang Siantar. Roman ini kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Susan Rodgers dengan judul Sitti Djaoerah: a novel of colonial Indonesia, terbit tahun 1997 oleh University of Wisconsin (Amerika Serikat).

Soetan Pangoerabaan pendiri Sinar Sipirok di Sipirok (De Sumatra post, 26-06-1933). Soetan Pangoerabaan Pane, seorang mantan guru dan novelis. Novel terkenalnya berjudul Tolbok Haleon. Soetan Pangoerabaan adalah individu yang lengkap dan sukses. Soetan Pangoerabaan, selain pendidik, novelis, jurnalis, juga adalah seorang pengusaha. Soetan Pangoerabaan Pane, kelahiran kampong Pangoerabaan, Sipirok kelak kebih dikenal sebagai ayah dari Sanoesi Pane (pengarang), Armijn Pane (pengarang) dan Lafran Pane (pendiri HMI).

Soetan Katimboeng adalah editor surat kabar Sinar Sipirok. Surat kabar ini merupakan surat kabar paling radikal (De Sumatra post, 26-06-1933). Sutan Katimboeng mantan Loehathoofd dari Saromatinggi pernah dianggap melakukan pelanggaran secara hokum (melakukan rapat besar tentang politik di Gunung Tua) dan dijatuhkan hukuman sembilan bulan penjara. Surat kabar Sinar Sipirok berafiliasi dengan suatu partai dimana nama Adam Malik dikaitkan. Pada saat itu adalah partai politik dianggap musuh pemerintahan kolonial.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

1 komentar:

Muhammad Yasin mengatakan...

Terima kasih informasinya Pak Akhir Martua Harahap. Sebagai orang yang lahir dan besar di Mandailing dan kini bermukim di Depok, informasi ini sangat berguna. Apalagi saya tertarik meriset beberapa hal ttg Mandailing Natal, khusus yang berkaitan dengan hukum. Salah satunya eksistensi Pengadilan Negeri Natal. Terima kasih banyak (Muhammad Yasin, yasin@hukumonline.com)