28/08/15

Jong Tapanoeli: Dari Abdoel Moenir Nasoetion kepada Parada Harahap hingga Kongres Pemuda




De Sumatra post, 17-01-1918
Jong Sumatra didirikan pada tanggal 8 Desember 1917 di Batavia oleh sejumlah pemuda dari kalangan siswa dan mahasiswa asal Sumatra (Tapanoeli, Oostkust Sumatra dan Sumatra’s Westkust). Asosiasi pemuda ini lahir dari suatu pemikiran bahwa intesitas (pembangunan) hanya berada di Jawa dan di Sumatra dan pulau-pulau lainnya terabaikan. Sementara itu sudah berdiri sebelumnya asosiasi dari siswa sekolah menengah dan kejuruan di Weltevreden yang disebut Jong Java. Susunan pengurus Jong Sumatranen adalah Tengkoe Mansoer sebagai ketua, Abdoel Moenir Nasoetion sebagai wakil ketua, Amir dan Anas sebagai sekretaris serta Marzoeki sebagai bendahara (lihat De Sumatra post, 17-01-1918).

Pada saat pendirian Sumatrabond ini sejumlah mahasiswa asal Mandheling en Ankola di STOVIA, antara lain adalah Raba Nasoetion, Soetan Loebis, Daliloedin dan Amir Hoesin, Soleman Siregar, Gindo Siregar, Pang Siregar (persiapan tahun 1); Kasmir Harahap, Ida Loemongga Nasoetion (persiapan tahun 2); Diapari Siregar (persiapan 3); Abdoel Moerad Loebis, Alimoedin Pohan (tingkat 1); Dja Bangoen (tingkat 2); Amir Nasoetion (tingkat 4); Abdoel Moenir Nasoetion (tingkat 5). Abdoel Moenir Nasoetion setelah lulus STOVIA, pada akhir 1922 diangkat menjadi dokter pemerintah (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 30-12-1922).

Pada bulan November 1921 di Sibolga, dilakukan pertemuan politik yang dimotori oleh dua pemuda bernama Parada Harahap dan Manullang. Mereka berdua pada Desember 1921 hadir di Padang ketika dilakukan rapat besar Jong Sumatranen. Tokoh di belakang dua pemuda ini adalah Abdoel Manap dan Abdul Karim. Hasil keputusan pertemuan ini adalah pada tanggal 22 Maret 1922 akan dilakukan Konferensi Jong Sumatra di Batavia (lihat De Indische courant, 07-01-1922). Parada Harahap termasuk yang akan hadir.

Dalam perkembangannya, Parada Harahap pada akhir tahun 1922 hijrah ke Batavia. Parada Harahap meninggalkan semua posisinya di Tapanoeli, baik sebagai pengurus pergerakan maupun sebagai editor koran Sinar Merdeka dan Poestaha di Padang Sidempuan. Di Batavia, Parada Harahap untuk menyambung hidup bekerja sebagai wartawan di koran yang terbit di Batavia. Lalu kemudian Parada Harahap berkolaborasi dengan Dr. Abdul Rivai mendirikan koran Bintang HIndia yang terbit pertama kali tanggal 2-1-1923. Setelah pension Abdul Rivai, Bintang Hindia ditutup, lalu Parada Harahap menerbitkan surat kabar Bintang Timoer pada tahun 1926. Dalam tempo setahun koran ini menjadi koran paling berpengaruh di Batavia dengan tiras paling tinggi.

Setelah lama kegiatan Jong Sumatra berjalan sendiri-sendiri, maka tanggal 7 Februari 1927 diadakan pertemuan di Weltevreden, pertemuan warga Sumatera yang berbeda di Batavia, dimana hampir semua provinsi di Sumatera diwakili. Perwakilan yang hadir pada pertemuan tersebut antara lain orang  Sumatera dari Minangkabau, Tapanoeli, Palembang, Lampongs dan Benkoelen. Para wakil dari Atjeh dan Oostkust Sumatera tidak dapat menghadiri pertemuan tersebut. Hasil keputusan komite sementara dibentuk yang terdiri dari: Sutan Mohamad Zain, Parada Harahap dan Dr Rivai. Kemudian kepengurusan yang terpilih sebagai berikut: Sutan Mohamad Zain (ketua), Parada Harahap (sekretaris), Hamid (bendahara). Board: M. Sjahriar (Minangkabau), MA Mohamad (Palembang), Boerhanoeddin (Lampong), Dr Joenoes (Bengkulu), sedangkan dua anggota, masing-masing Atjeh dan Oostkust Sumatera disediakan kolom kursi berpartisipasi (lihat De Indische courant, 10-02-1927).

Kiprah Parada Harahap terus melejit. Pada bulan September, Parada Harahap menggagas diadakannya pertemuan para pemimpin bond. Tanggal 25 September 1927 hari Minggu di Weltevreden diadakan pertemuan para pemimpin yang berbeda dari serikat pribumi di Batavia di rumah Mr Djajadiningrat. Diputuskan untuk mendirikan organisasi yang terdiri dari para pemimpin dari berbagai serikat pribumi, dengan ketua komite adalah MH Thamrin dan sekretaris Parada Harahap. Sarikat-sarikat yang hadir adalah Boedi Oetomo, Pasoendan, Kaoern Betawi, Sumatranenbond, Persatoean Minahasa, Sarekat Amboncher dan NIB (lihat  Bataviaasch nieuwsblad, 26-09-1927). Komite ini melahir organisasi Permoefakatan Perhimpoenan-perhimpoenan Politiek Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Dari sinilah awal mula dilakukan Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda: Saru Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa.

De Indische courant, 01-09-1928: ‘Pertemuan publik pertama PPPK (Permoefakatan Perhimpoenan-perhimpoenan Politiek Kebangsaan Indonesia) utuk melakukan kongres di Batavia. Berbagai duta negara sudah hadir dalam pertemuan ini. Tjokroaminoto dari PSI sudah hadir. Delegasi dari Sarekat Sumatera, Mr. Parada Harahap, managing editor Bintang Timoer, disini hari sebelum kemarin tiba dengan mobilnya. Kongres dibuka jam delapan di tempat terbuka yang dihadiri lebih dari 2000. Di antara mereka yang hadir kami melihat Tuan Gobee dan Van der Plas dari Kantor Urusan Pribumi. Perwakilan dari asosiasi dan istri kongres perempuan berlangsung di aula tengah bangunan situs. Untuk membuka sekitar 9:00 Dr. Soetomo atas nama panitia menerima kongres. Soetamo mengatakan bahwa ini hasil dari diskusi pada konferensi berlangsung di Bandung pada tanggal 17 Desember 1927, ketika pembentukan PPPKI diputuskan. Pada konferensi bahwa rancangan undang-undang diadopsi dan menyerah PSI itu., PNI, BO, Pasundan, Sarekat Sumatera, Studi Indonesia, Kaoem Betawi dan Sarekat Madura sebagai anggota. Organisasi dalam pembentukan PPPKI berdasarkan nasionalis. Dengan motto: Hidoeplah Persatoean Indonesia (Hidup Persatuan Indonesia) memutuskan spr. sambutannya. Kesempatan untuk PPPKI. untuk mengucapkan selamat kongres pertamanya. Ir. Soekarno, yang berbicara atas nama PNI (Partai nasionalis Indonesia), bersukacita dalam realisasi PPPKI karena pemisahan antara sana dan sini dan akan ditentukan lebih tajam. Delegasi dari Sarekat Sumatera, Mr. Parada Harahap, menyesalkan sikap pasifnya Minahassiscbe dan Amboineesche sebangsa..


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: