25/03/17

Sejarah Masjid Istiqlal, Ini Faktanya (7): Harmoni Antar Umat Beragama di Tanah Batak; Islam Pertama di Indonesia di Baros; Kristen Terakhir di Sipirok

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Masjid Istiqlal dalam blog ini Klik Disin


Masjid Istiqlal adalah Masjid Merdeka, nama masjid yang diinginkan oleh Presiden Soekarno. Meski sejauh ini pembangunannya belum selesai, namun nama masjid yang sesuai (istiqlal) dan lokasi yang sesuai sudah menjadi paten (tidak akan berubah lagi). Sayangnya, Ir. Soekarno tengah berada di dalam kesulitan dan sohibnya Zainul Arifin Pohan telah lama tiada. Singkat kata: untuk sementara pembangunan Masjid Istiqlal terkendala untuk sementara waktu.

Mesjid dan gereja di Sipirok, 1906
Lokasi Masjid Istiqlal yang dipilih Soekarno berdasarkan diskusinya dengan Zainul Arifin Pohan tentu saja berdasarkan pilihan dari Yang Maha Menentukan. Secara vertical (historis) lokasi masjid berada di atas taman Wilhelmina, yang seakan menyiratkan masa lalu colonial telah digantikan oleh masa depan bangsa Indonesia. Secara horizontal (futuristic) lokasi masjid yang berada berhadapan dengan Gereja Katedral (bukan berseberangan dan juga bukan membelakangi) seakan menyiratkan di masa depan harmoni antar umat beragama dapat terus terjaga. Itulah masjid terbesar di Indonesia, masjid merdeka dan masjid lambang persatuan.

Masjid Istiqlal yang akan menjadi lambang agama Islam di alam kemerdekaan akan menaungi siar agama Islam hingga ke masa depan. Agama Islam sendiri adalah agama yang datang kemudian (setelah Budha dan Hindoe) yang kemudian menyusul agama Kristen dan Katolik. Agama Islam di Nusantara diduga bermula di Baros, Tanah Batak, Pantai Barat Sumatra dan kemudian menyebar ke seluruh nusantara. Ini berarti boleh jadi agama Islam di Nuasantara diterima oleh penduduk Batak. Sebaliknya, seperti yang akan dideskripsikan, di Tanah Batak juga di Sipirok agama Kristen terakhir kali diterima di Nusantara. Ini seakan penduduk Batak di Tanah Batak terbilang yang di satu sisi terawal masuk Islam dan di sisi lain yang terakhir masuk Kristen di Nusantara.

Dalam statistik terakhir (hasil Sensus Pendudu 2010), penduduk Batak, merupakan etnik di Nusantara yang komposisi penduduknya yang beragama Islam dan beragama Kristen terbilang seimbang: Sebanyak 46.35 persen beragama Islam, sementara sebanyak 47.30 persen menganut agama Kristen dan 6.25 persen menganut agama Katolik. Sedangkan sisanya sebanyak 0.08 persen terdiri dari agama Hindu, Budha, Khonghucu dan lainnya. Di Sumatra Utara sendiri, agama Islam umumnya dianut oleh sub etnik Angkola (97.8 persen) dan etnik Mandailing (98.9 persen). Sementara agama Kristen umumnya dianut oleh sub etnik Toba (73.8 persen). Persentase agama Islam untuk sub etnik Pakpak Dairi, sub etnik Tapanuli/Sibolga tampak relatif lebih banyak dibandingkan penganut agama Kristen. Sedangkan untuk sub etnik Simalungun dan sub etnik Karo persentase penganut agama Kristen tampak relatif lebih banyak dibandingkan dengan agama Islam. Persentase agama Katolik cukup menonjol pada sub etnik Karo dan sub etnik Toba.

Soekarno dan Zainul Arifin Pohan

Awal pembangunan masjid agung (yang kemudian diberi nama Masjid Istiqlal) peran dua tokoh penting  sangat besar, yakni Ir. Soekarno dan Zainul Arifin Pohan. Mereka bedualah yang secara intens membicarakannya, tidak hanya dibicarakan di Istana Merdeka, tetapi juga di Makkah dan Madinah. Keduanya meski berbeda partai, Soekarno (Nasionalis/PNI) dan Zainul Arifin Pohan (Islam/Masyumi) tetapi untuk urusan masjid ini keduanya satu visi (merdeka di atas kesatuan dan persatuan). Nama dan lokasi Masjid Istiqlal seakan menggambarkan visi dari dua tokoh ini.

Kedua tokoh ini lahir di dua tempat yang berbeda tetapi sangat khusus dalam sejarah awal perkembangan Islam di Nusantara pada masa lampau. Zainul Arifin Pohan lahir di Baros, Tanah Batak, suatu tempat yang diduga awal pertama kali Islam masuk ke Nusantara. Soekarno lahir di Soerabaja, Tanah Jawa, suatu tempat yang tidak jauh dari Gresik. Suatu tempat yang diduga awal pertama kali Islam masuk ke Pulau Jawa.

Baros dan Tanah Batak

Kampong halaman Zinul Arifin Pohan dan Soekarno, sangat penting dalam proses adopsi agama Islam di Baros dan proses difusi di seluruh Sumatra. Agama Islam dari Baros menyebar di Pantai Barat Sumatra (hingga ke Atjeh dan Bengkulu). Dalam proses penyebaran lebih lanjut dengan menguatnya kerajaan-kerajaan Islam di Atjeh (orang-orang Moor) Islam menyebar cepat ke Pantai Timur Sumatra, Jawa dan wilayah-wilayah lainnya.

Baros sendiri adalah kota perdagangan paling kuno di Pantai Barat Sumatra. Suatu tempat yang awalnya kosong (teritori penduduk Batak) lalu muncul pusat pertukaran komoditi-komoditi kuno. Para pelaut-pelaut Yaman, Persia dan Mesir lalu menyusul India datang untuk mengambil komoditi kuno seperti benzoin, kapur barus, kamper dan kemenyan, suatu komoditi yang dibutuhkan di jaman kuno untuk penerangan, pengawetan, kesehatan dan lainnya.

Uniknya, komoditi itu (saat itu) hanya ditemukan di wilayah Tanah Batak yang kini disebut Angkola. Pohon-pohon anugerah tuhan itu menyebar dari Loemoet hingga Sigompoelon (dari barat gunung Lubuk Raya hingga timur Gunung Sibualbuali). Orang-orang Batak dalam hal ini adalah produsen pertama komoditi kuno tersebut yang menyebabkan para konsumen dari Asia Barat dan Afrika Utara datang ke pantai-pantai di Pantai Barat Sumatra di sekitar Telok Tapanoeli yang sekarang. Dari sumber-sumber di pedalaman Tanah Batak komoditi mengalir ke muara-muara sungai dan pantai-pantai (pelabuhan feeder) yang pada akhirnya terbentuk simpul perdagangan komoditi akhir di Baros (sebagai pelabuhan internasional). Hasil pertukaran komoditi kuno ini pendudk Batak memperoleh garam, kain dan besi. Penduduk Batak yang semakin kaya menyebabkan kehidupan sosial-ekonomi berkembang pesat yang lalu memunculkan sistem sosial dengan basis aristokrasi yang pada gilirannya terbentuk Batak Kingdom (lihat laporan Pinto, Pires, Barbosa).

Dalam peta-peta kuno buatan Portugis itu (yang menjadi rujukan pembuatan peta-peta selanjutnya) besar kemungkinan didasarkan pada laporan Tome Pires (1512-1515) yang pernah mengunjungi Malacca. Pires mendeskripsikan Sumatra berdasarkan informasi yang dikumpulkan di Malacca, dimana di dalam laporannya Barros ditulisnya saling tertukar antara Barros dengan Bata, Bara dan juga ditulis sebagai Terra de Aeilabu (Aek Labu) dan Terra de Tuncoll. Semua nama-nama yang tertukar itu berada di daerah teritori penduduk Batak (Baros). Lalu kemudian Daru tertukar dengan Barros atau de Aru (Daru adalah ucapan untuk 'de Aru'). Ini juga mengindikasikan nama-nama itu berada di daerah teritori penduduk Batak. Intinya, beberapa bandar penting yang didaftar Tome Pires adalah Pedir, Aeilabu, Lide, Pirada dan Pacee. Dari tiga pelabuhan penting ini hanya Aeilabu (Aek Labu atau Lobu Toea? nama lain Baros) yang sangat dekat dengan teritori penduduk Batak. Meski disebut nama Aru, tetapi di dalam laporan Pires tidak menonjol.

Dalam perkembangan selanjutnya di Baros, sistem aristokrasi mulanya tipikal dengan sisten aristoktasi di Angkola dari marga Daulay (dalam laporan Pinto terdapat duta besar Battak Kingdom yang Daholay). Mingrasi penduduk Batak ke pantai barat di Baros akibat perdagangan komoditi kuno menyebabkan beragam marga yang muncul di Baros, termasuk marga Pohan yang terbilang pemilik sistem aristokrasi yang kuat di Baros.

Pelabuhan Baros di Tanah Batak begitu penting pada masa itu, masa dimana agama Islam belum lahir. Penduduk Batak belum ada yang beragama tetapi sudah terbentuk kepercayaan kuno yang menyembah benda-benda termasuk pohon yang mensejahterakan yakni pohon kemenyan. Lagu Batak berjudul Sekko-Sekko boleh jadi lagu yang terus hidup dalam kehidupan penduduk sejak sebelum adanya agama Islam. Sekko dalam bahasa Angkola adalah kemenyan. Satu hal lagi, komoditi kapur barus (kamper) yang diduga komoditi dunia atas partisipasi pedagang/pelaut internasional kala itu menyebabkan kata kapur (kafura) masuk dalam kosa kata di Asia Barat (yang dapat ditrace dalam kamus Persia Kuno). Kosa kata kapur (kafura) inilah terdapat dalam Al’Quran, kata yang satu-satunya terdapat dalam kitab suci yang berasal dari Nusantara di Tanah Batak yang berbasis di Baros (kapur baros).

Sementara di Jawa proses adopsi diduga bermula di Gresik lalu mengalami proses diffusi di Jawa (pantai utara dan pedalaman Jawa melalui sungai-sungai di sekitar Surabaya yang sekarang). Penyebaran agama Islam di Jawa semakin massif dengan munculnya sejumlah wali-wali di pantai utara Jawa. Ekspedisi Cheng Ho pada fase berikutnya telah memperkuat kedudukan dan eksistensi agama Islam di Jawa.

Di Tiongkok nama Batak cukup dikenal dalam dialek Tiongkok Kuno. Nama Batak terdeteksi dalam laporan-laporan Tiongkok (ekspedisi Cheng Ho) yang sebelum atau sesudah ekspedisi duta besar Batak Kingdom telah dicatat perbnah berkunjung ke Tiongkok. Tentu saja urusan ini adalah urusan komoditi kuno.

Baros, Sipirok dan Jakarta

Nama Baros sebagai pelabuhan penting di Pantai Barat Sumatra, simpul perdagangan komoditi kuno dari Tanah Batak secara perlahan siar Islam di Baros juga mengalami proses difusi ke pedalaman Tanah Batak (khususnya di Angkola dan Mandailing). Penduduk Batak di pedalaman beragama Islam tentu saja dibawa oleh penduduk Batak yang telah lebih dahulu menganut agama Islam di Baros (suatu teritori penduduk Angkola di fase peradaban awal, perdagangan kuno).

Penyebaran agama Islam di Tanah Batak terbilang sangat lambat dan tidak cepat meluas seperti penyebaran agama Islam di wilayah lain, terutama nantinya di Pulau Jawa. Penyebaran agama Islam di Tanah Batak hanya terbatas di wilayah-wilayah terbuka dari pengaruh asing. Wilayah terbuka itu adalah wilayah Angkola dan Mandailing yang sekarang yang secara de facto berdiam antara Baros/Batahan di Pantai Barat Sumatra dan muara pengaliran sungai Baroemoen (Bila/Kota Pinang) di Pantai Timur Sumatra.

Penduduk Angkola dan Mandailing menganut agama Islam jauh sebelum orang-orang Eropa datang ke Nusantara. Sipirok adalah batas Tanah Batak yang beragama Islam dengan yang bukan (belum) beragama Islam. Penduduk Sipirok sendiri umumnya telah beragama Islam.

Belanda memasuki Tanah Batak bermula di Mandailing kemudian merangsek ke Angkola. Pada tahun 1840 pemerintahan Hindia Belanda dibentuk di Mnadailing dan Angkola (satu afdeeling). Sejak kehadiran Belanda inilah introduksi agama Kristen dimulai yang diperankan oleh para misionaris. Awalnya hanya misionaris Belanda kemudian diikuti misionaris Jerman. Para misionaris awalnya melakukan pengabaran Injil di Mandailing di Pakantan. Namun karena proses penyebarannya lambat, lalu dipindahkan Angkola. Hasilnya juga sama dengan yang di Mandailing tetap penyebaran Kristen tidak berkembang. Baru di distrik Sipirok (Angkola Dolok) penyebaran agama Kristen mulai mendapat titik terang.

Sebagai wilayah Islam di Tanah Batak yang paling ujung, di Sipirok jumlah penduduk Sipirok (yang awalnya beragama Islam) banyak yang masuk agama Kristen. Namun perkembangannya tetap tidak optimal, lalu misionaris (terutama Jerman) melakukan terobosan untuk memasuki wilayah Silindoeng dan Toba (yang secara teknis belum ada catatan tentang penganut agama Islam, Kristen dan Katolik). Untuk penyebaran agama Kristen yang diawali di Silindoeng basisnya dilakukan di Sipirok. Kejadian ini bermula ketika Gustav van Asselt dikirim dari Batavia ke Sipirok tahun 1858.

Pada tahun 1861 tepatnya tanggal 7 Oktober 1861 di Kampong Parau Sorat, Sipirok terjadi kesepakatan antara misionaris Belanda dan misionaris Kristen tentang pembagian wilayah kerja, pembangunan gereja (kecil) dan pelayanan pendidikan. Misionaris Belanda bekerja di Angkola dan misionaris Jerman di Silindoeng. Pada tahun 1862 Nommensen datang untuk mengikuti rekan-rekannya dan Nommensen bekerja lebih jauh ke utara di Silindoeng. Sipirok, saat itu adalah tempat terjauh adanya orang Eropa (misionaris) di Tanah Batak. Ibukota Angkola adalah Padang Sidempoean. Tanggal 7 Oktober 1861 diklaim sebagai hari kelahiran HKBP.

Ketika waktunya misionaris membutuhkan gereja yang lebih besar di Sipirok (lebih besar dari yang di Parau Sorat) penganut agama Islam tidak keberatan. Sebab penduduk Sipirok masih berkerabat dekat satu sama lain, baik yang sudah beragama Islam maupun yang belakangan masuk agama Kristen. Gereja yang dibangun justru terbilang sangat dekat dengan masjid. Meski begitu, tidak pernah terjadi pertentangan dan malah harmoni yang terjadi. Masjid dan gereja di Sipirok adalah gambaran terawal tentang harmoni antar umat beragama di Nusantara yang boleh jadi merupakan keinginan Soekarno dan Zainul Arifin Pohan menginisiasi lokasi Masjid Istiqlal di Jakarta yang berada di Wilhelmina Park yang berhadapan langsung dengan Gereja Katedral. Visi kedua tokoh masjid Istiqlal ini hanya satu: selalu tercipta harmoni.

Zainul Arifin Pohan: Pesantren  dan NU

Tunggu deskripsi lengkapnya

Bersambung:
Sejarah Masjid Istiqlal, Ini Faktanya (8): Selesai di Era Orde Baru; Ir. Sukarno Direhabilitasi


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap dari berbagai sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: