16/11/12

Populasi Etnik Angkola di Provinsi Jawa Timur: Terbanyak Ketiga Diluar Penduduk Asli


Oleh Akhir Matua Harahap


Berdasarkan hasil Sensus Penduduk, 2010 di Provinsi Jawa Timur tercatat sebanyak 707 etnik. Hanya lima etnik asli yang menjadi penduduk asli Jawa Timur, selebihnya adalah etnik pendatang (perantau). Lima etnik asli tersebut adalah Jawa, Madura, Osing, Bawean, dan Tengger. Dari 37,476,757 jiwa penduduk Jawa Timur, persentase terbesar adalah etnik Jawa (79.58 persen) yang disusul kemudian etnik Madura (17.53 persen). Tiga etnik asli lainnya, persentasenya terbilang sangat kecil: Etnik Osing di Banyuwangi (0.76 persen), etnik Bawean (0.19 persen) dan etnik Tengger (0.13 persen). Persentase keseluruhan etnik asli adalah   sebesar 98.19 persen. Ini berarti Provinsi Jawa Timur dominan dari etnik Jawa dan etnik Madura.


Tabel-1. Persentase etnik di Provinsi Jawa Timur
Etnik
Persen
Etnik
Persen
Etnik
Persen
Jawa
79.58
Bajao
0.07
Melayu
0.03
Madura
17.53
Bugis
0.06
Betawi
0.02
Osing
0.76
Bali
0.05
Rajabasa
0.02
Tionghoa
0.73
Lampung
0.05
Mandar
0.02
Bawean
0.19
Ambon
0.04
Sibolga
0.02
Tengger
0.13
Banjar
0.03
Minang
0.02
Sunda
0.12
Karo
0.03
Lainnya
0.41
Angkola
0.08
Flores
0.03
      


Etnik pendatang sendiri hanya sebanyak 1.81 persen saja dari total penduduk Provinsi Jawa Timur. Persentase etnik pendatang terbesar adalah etnik Tionghoa (0.73 persen)  dan kemudian pada urutan berikutnya adalah etnik Sunda (0.12 persen) dan Etnik Angkola (0.08 persen). Ini berarti etnik Angkola merupakan penduduk terbanyak ketiga di luar penduduk asli Provinsi Jawa Timur. Etnik Angkola adalah sub etnik Batak yang jumlahnya dominan terdapat di empat kabupaten/kota di wilayah Tapanuli Bagian Selatan, Provinsi Sumatera Utara, yakni di Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Padang Lawas Utara, Kabupaten Padang Lawas dan Kota Padang Sidempuan.

Tingginya persentase etnik Angkola ini di Provinsi Jawa Timur boleh jadi sebuah misteri (sesuatu yg masih belum jelas). Pertama, secara keseluruhan etnik Batak di Provinsi Jawa Timur hanya sebesar 0.15 persen. Dengan demikian, persentase subetnik lainnya dari etnik Batak hanya sebesar 0.07 persen yang dapat dirinci sebagai berikut: etnik Karo (0.029 persen), Mandailing (0.005 persen), Pakpak (0.001 persen), Simalungun (0.005 persen, Sibolga (0.017 persen) dan Toba (0.012 persen). Kedua, jika di perhatikan komposisi etnik Batak baik di Provinsi Sumatera Utara maupun secara nasional, persentase sub etnik Angkola tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan subetnik Batak lainnya. Ketiga, jarak geografis antara Sumatera Utara apalagi wilayah Tapanuli Bagian Selatan sungguh sangat jauh ke Jawa Timur.



Tabel-2. Persentase Subetnik Batak di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara,
DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur dan Indonesia

Kode
BPS
Subetnik
Batak
Tapanuli
Selatan
Sumatra
Utara
DKI
Jakarta
Jawa
Barat
Jawa
Timur
Indo-
nesia
14
Angkola
37.72
4.10
0.09
0.03
0.078
0.26
15
Karo
0.17
5.49
0.92
0.34
0.029
0.52
16
Mandailing
36.30
9.44
0.33
0.12
0.005
0.73
17
Pakpak
0.06
0.78
0.02
0.01
0.001
0.08
18
Simalungun
0.15
2.50
0.14
0.06
0.005
0.19
19
Sibolga
0.56
1.38
0.59
0.15
0.017
0.23
20
Toba
7.64
20.83
1.11
0.32
0.012
1.55
Batak
82.6
44.52
3.20
1.03
0.147
3.55

umber: Diolah dari Sensus Penduduk 2010


Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa persentase (sub)etnik Angkola begitu fantastik di Jawa Timur? Ini adalah semacam anomali dan tidak normal untuk persebaran penduduk masa kini dan juga tidak mengikuti pola persebaran subetnik Batak secara umum. Secara statistik, komposisi etnik Batak sesungguhnya mengikuti komposisi etnik Batak secara umum baik di Sumatera Utara maupun secara nasional. Persentase subetnik Angkola di Sumatera Utara dan secara nasional berada pada posis keempat setelah Toba, Mandailing dan Karo (lihat Tabel-2). Jika DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur dianggap sebagai daerah tujuan migrasi etnik Batak, maka persentasei etnik Angkola di DKI Jakarta dan Jawa Barat tampak kurang lebih serupa, dimana etnik Angkola berada di peringkat keenam. Akan tetapi di Jawa Timur, persentase  etnik Angkola justru berada di peringkat pertama. Ini sungguh tak terduga.




Jika persentase etnik Angkola di Provinsi Jawa Timur sebesar 0.078 persen maka ini setara dengan  29,194 jiwa. Jumlah ini tidak ada artinya jika dibandingkan dengan etnik Jawa dan etnik Madura (penduduk asli) yang jumlahnya masing-masing 29.824.950 jiwa dan 6.568.438 jiwa. Namun jika jumlah etnik Angkola di Jawa Timur dibandingkan dengan etnik Tionghoa  (236.124 jiwa) dan etnik Sunda (45.262 jiwa) dan  etnik Bali (19.316), jumlah etnik Angkola ini menjadi begitu berarti (signifikan). Lebih berarti lagi jika jumlah etnik Angkola di Jawa Timur dibandingkan dengan subetnik Batak lainnya, misalnya etnik Mandailing yang hanya terdapat 1.712 jiwa dan etnik Toba 4.636 jiwa. Ini di satu sisi jelas suatu perbedaan jumlah yang sangat besar sekali diantara subetnik Batak di Jawa Timur. Sedangkan di sisi lain, ternyata populasi etnik Angkola di Provinsi Jawa Timur merupakan populasi  etnik Angkola terbanyak di luar Provinsi Sumatra Utara.



Keberadaan etnik Angkola ini di Jawa Timur tidak hanya terdapat di ibukota Provinsi (Kota Surabaya) tetapi juga tersebar merata di semua kabupaten/kota di Jawa Timur. Jumlah etnik Angkola terbanyak di Jawa Timur adalah di Kabupaten Bojonegoro sebanyak 4.100 jiwa. Kabupaten/kota lainnya yang menjadi konsentrasi etnik Angkola di Jawa Timur adalah Kabupaten Pasuruan (3.427 jiwa), Kota Surabaya (3.389 jiwa), dan Kabupaten Lamongan (3.174 jiwa). Kabupaten lainnya yang terbilang menjadi konsentrasi etnik Angkola dengan jumlah 2000 jiwa lebih adalah Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Malang, sementara dengan jumlah 1000 jiwa lebih di Kabupaten Jombang, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Gresik dan Kabupaten Nganjuk.



Etnik Angkola di Jawa Timur sebagai etnik pendatang terasa memberi makna jika dibandingkan dengan etnik pendatang lainnya. Mungkin aneh terdengar jika jumlah etnik Angkola merupakan jumlah etnik terbanyak kedua setelah etnik Jawa di Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Tulungagung. Akan tetapi dalam kenyataannya memang etnik Angkola merupakan penduduk terbanyak di kabupaten-kabupaten tersebut setelah etnik Jawa. Sementara etnik Angkola menempati posisi yang terbanyak ketiga di Kabupaten Jombang, Kabupaten Ngawi. Sedangkan di Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan peringkat keempat, di Kabupaten Sidoarjo peringkat kelima, di Kabupaten Gresik (peringkat keenam) dan di Kota Surabaya berada pada peringkat kesembilan terbanyak.  

***

Dengan memperhatikan statistik penduduk Provinsi Jawa Timur, tampaknya belum ada informasi yang menjelaskan mengapa persentase dan jumlah etnik Angkola di Jawa Timur cukup signifikan diantara 700 lebih etnik pendatang. Bagaimana menjelaskan keberadaan etnik Angkola di Provinsi Jawa Timur jelas tidak mudah karena jarak antara Tapanuli Selatan, Sumatera Utara (asal etnik Angkola) dengan Jawa Timur (tujuan migrasi etnik Angkola) sungguh sangat jauh. Keberadaan etnik Angkola di Jawa Timur bukanlah menggambarkan pola persebaran etnik pada masa kini tetapi diduga lebih pada pola migrasi masa lalu. Penduduk Jawa Timur dewasa ini yang mengidentifikasikan dirinya sebagai etnik Angkola boleh jadi merupakan generasi kesekian dari generasi pendahulunya. Oleh karenanya penelusuran terhadap kehadiran etnik Angkola di Jawa Timur lebih tepat dilihat dari sisi historis.

Satu hal tentang etnik Angkola adalah bahwa mereka bukanlah tipikal ‘pelaut’ yang memiliki daya jelajah migrasi sebagaimana diriwayatkan pada etnik Bugis, Madura, Banjar, dan Flores. Etnik Angkola justru sebaliknya tipikal etnik ‘petani’ yang menetap dan bermukim di daerah pedalaman Tapanuli (jauh dari laut). Lantas, bagaimana etnik Angkola ada di Jawa Timur? Apakah ada peran pemerintahan Belanda Indonesia di masa kolonial sebagaimana adanya transmigrasi dari Pulau Jawa ke Lampung dan timbulnya arus ‘migrasi tenaga kerja’ perkebunan dari Pulau Jawa ke Sumatera Utara. Untuk kasus etnik Angkola, penjelasan serupa ini kurang realistik mengingat ketersediaan tenaga kerja di Jawa Timur cukup berlimpah dan di Tapanuli Selatan sendiri jumlah tenaga kerja relatif terbatas dibandingkan dengan luas lahan untuk pertanian.  

Apakah keberadaan etnik Angkola di Jawa Timur terkait dengan birokrasi di era Belanda? Dalam suatu artikel Yousri Nur Raja Agam yang berjudul ‘Radjamin Nasution: Walikota Pertama Surabaya’ mengungkapkan bahwa di era Belanda sudah ada seorang etnik Batak yang memiliki posisi penting di Keresidenan/Kota Surabaya. Singkat cerita, ketika terjadi kekosongan pemerintahan Belanda akibat invasi Jepang di Nusantara, pemerintahan Kota Surabaya diambilalih oleh para pegawai di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya. Pada masa transisi ini berdasarkan kesepakatan bersama ditetapkan, karyawan pribumi yang cukup berwibawa waktu itu Radjamin Nasution, Gelar Sutan Komala Pontas diposisikan sebagai Pejabat Walikota. Selama delapan bulan sejak Februari hingga September 1942, Radjamin Nasution mengendalikan Pemerintahan Kota Surabaya.

Selanjutnya setelah Jepang menduduki kota-kota besar di Indonesia dan masa pemerintahan militer Jepang, tokoh pribumi Radjamin Nasution yang berasal dari Tapanuli Selatan tetap dipertahankan kedudukannya oleh pemerintahan militer Jepang sebagai wakil walikota. Kemampuan Radjamin Nasution tidak hanya diakui oleh pemerintah kolonial Belanda namun juga pemerintahan militer Jepang. Takahashi Ichiro sebagai Walikota ketika Jepang dikabarkan menyerah kalah dari Sekutu, menyerahkan sepenuhnya pimpinan pemerintahan Kota Surabaya kepada wakilnya, Radjamin Nasution. Kemudian, setelah Republik Indonesia diproklamirkan, terhitung sejak 17 Agustus 1945 Radjamin resmi diangkat menjadi Walikota Surabaya. Kepemimpinannya dapat diterima oleh arek-arek Suroboyo.

Ketika menjadi walikota itu, Radjamin juga sibuk menghimpun kekuatan perlawanan terhadap gempuran sekutu dalam fase Agresi Militer Belanda (November 1945). Ia bersama pemuda dan karyawan yang masih bertahan di Surabaya, bahu membahu menyediakan keperluan pejuang. Karena kekuatan tidak seimbang, sebagian penduduk meninggalkan kota untuk menyusun kekuatan. Walikota serta pejabat-pejabat pemerintahan setempat ikut mengungsi ke Mojokerto. Perhatian Radjamin di masa “sulit” itu kepada pegawai Pemerintah Kota Surabaya yang mengungsi sangat besar. Dari Surabaya, Radjamin Nasution membawa sendiri uang untuk membayar gaji para karyawan yang berada di tempat pengungsian, di Mojokerto, Jombang dan Tulungagung. Bahkan ketika ikut mengungsi ke Tulungagung, Radjamin sendiri berinisiatif mengumpulkan pakaian bekas dan karung goni untuk bahan pakaian para pejuang di Surabaya. Akhirnya, pihak Belanda kembali merebut dan mengambil alih pemerintahan di Kota Surabaya, sehingga, berakhir pula masa pemerintahan Radjamin Nasution sebagai Walikota pertama di Kota Surabaya.

***
Lantas apakah ada kaitan sosok pribadi yang berwibawa Radjamin Nasution ini dengan kehadiran para migran etnik Angkola di Surabaya atau apakah Radjamin ditempatkan pemerintahan Belanda dan bermigrasi ke Kota Surabaya bersama yang lainnya dalam jumlah besar untuk mengisi kebutuhan pegawai Belanda di dalam pemerintahan Kota Surabaya? Boleh jadi penjelasan ini masuk akal karena sudah sejak lama Tapanuli Selatan, khususnya Padang Sidempuan diakui menjadi pusat pendidikan dan budaya. Perkembangan pendidikan sangat pesat di era Belanda sehubungan dengan adanya Kweekschool Padang Sidempuan yang mana Charles Adriaan van Ophuysen (ahli Bahasa Melayu dan Bahasa Angkola/Mandailing) menjadi salah satu direkturnya. Tenaga-tenaga terdidik dari Padang Sidempuan (Tapanuli Selatan) boleh jadi direkrut pemerintahan Belanda untuk membantu mereka di pemerintahan Kota Surabaya. Kota Padang Sidempuan di era Belanda terbilang surplus orang pribumi terdidik dan memiliki keunggulan untuk urusan administrasi pemerintahan maupun perusahaan-perusahaan perkebunan. Bahkan untuk mengisi kebutuhan pegawai-pegawai di perusahaan perkebunan di Sumatera Timur dan pemerintahan Belanda di Kota Medan umumnya berasal dari Tapanuli Selatan.

Penjelasan tenaga pribumi terdidik di era pemerintahan Belanda diduga kuat sebagai faktor kehadiran etnik Angkola di Kota Surabaya dan sekitarnya. Penjelasan ini diperkuat ciri sosial budaya etnik Angkola khususnya dan etnik Batak umumnya ‘sekali merantau tidak akan kembali’ (istilah sosiologis: ‘perantau hanyut’). Kita teringat dengan alm Ucok Aka Harahap, seorang rocker yang menganggap dirinya sebagai arek Suroboyo tulen  dibanding anak-anak Surabaya lainnya. Sehubungan dengan keberadaan etnik Angkola yang cukup signifikan di Jawa Timur dewasa ini boleh jadi mereka merupakan generasi yang kesekian setelah leluhur mereka datang pertamakali ke Kota Surabaya. Persebaran etnik Angkola yang cukup merata di Provinsi Jawa Timur diduga mereka menyebar (migrasi lokal) dari Kota Surabaya ke semua kabupaten/kota yang terdapat di Jawa Timur (Akhir Matua Harahap).

Tidak ada komentar: